Pelawat Cina sebut pribumi Jawa jelek dan kotor

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pelawat Cina sebut pribumi Jawa jelek dan kotor

Catatan tertulis mengenai kondisi Jawa pada masa lampau sangat sulit, kecuali dalam beberapa prasasti. Hal ini karena tradisi di Jawa dan Nusantara secara umum adalah tuturan lisan. Akan tetapi, narasi tentang Jawa masih cukup dapat dilacak dari tulisan para pelawat Cina.

Hubungan Nusantara dengan Cina memang sudah memiliki sejarah cukup lama, yaitu sejak 131 Masehi. Kerajaan di Nusantara yang paling awal memiliki hubungan dengan Cina adalah Jawa. Di sini, Jawa adalah pihak pertama yang menjadi inisiator hubungan bilateral tersebut karena memiliki armada laut paling canggih saat itu. Pengetahuan ini dapat diketahui dari para sejarahwan Dinasti Han (206SM-220M).

Di antara catatan yang menarik tentang Jawa adalah gambaran kondisi masyarakat kala itu. Ahli sejarah Nurni W. Wuryandari dalam “Catatan tentang Majapahit dalam Dua Dokumen Utama Masa Dinasti Ming” (2018) mengatakan bahwa Ma Huan (abad 15) yang mengunjungi Majapahit membagi penduduk Jawa ke dalam tiga golongan.

Golongan pertama adalah orang Arab, yang datang untuk berdagang. Pakaian dan makanan mereka bagus-bagus. Golongan kedua adalah orang-orang Cina yang berasal dari Guangdong, Zhangzhou dan Quanzhou yang melarikan diri kemudian tinggal di Jawa. Makanan dan peralatan yang mereka gunakan juga sangat bagus dan bersih. Dikatakan Ma Huan, banyak orang-orang Cina ini memeluk agama Islam dari orang-orang Arab.

Sementara itu, golongan pribumi yang tinggal di luar istana, menurut paparan Ma Huan, sangat jelek dan kotor. Mereka bepergian dengan telanjang kaki dan rambut tanpa disisir. Ma Huan juga menyebut pribumi percaya pada ajaran setan. Bahkan, dalam catatan yang diterjemahkan Nurni itu, Ma Huan juga menyebut dalam buku ajaran Budha, di antara negeri-negeri setan yang ada, Jawa adalah salah satunya.

Makanan penduduk pribumi kala itu sangat buruk yaitu ular, berbagai serangga dan ulat. Makanan ini dipanaskan sebentar di atas api dan langsung dimakan. Mereka memelihara anjing di dalam rumah dan tidur serta makan bersama pemiliknya tanpa rasa risih.

Menurut Nurni, sangat disayangkan Ma Huan tidak menyebutkan dengan jelas di mana dia menemukan warga golongan ketiga ini. Namun, menurut pengalaman, sebagian warga Tuban memang diketahui ada yang mengkonsumsi belalang, ulat dan ular.

Ma Huan adalah penerjemah Laksamana Cheng-Ho yang terkenal itu. Dia menguasai banyak bahasa, termasuk Arab dan Persia. Catatan tentang Jawa ditulis dalam buku “Yingya Shenglan”. Karya ini bukan termasuk kategori buku sejarah resmi kerajaan, tapi karya pribadi. Saat menceritakan Jawa, Ma Huan, dikatakan Nurni, sangat teliti memperhatikan hal-hal berkaitan dengan budaya.

Ma Huan juga menyebut tiga kota utama di pesisir Jawa, yakni Surabaya, Tuban dan Gresik. Dikatakan Ma Huan, sebelumnya, Gresik adalah wilayah pantai yang kosong, kemudian orang-orang Cina datang untuk menetap dan menamakannya Xincun. Orang Cina yang tinggal di tempat ini kebanyakna dari Guangdong, sekitar seribu orang lebih. Orang-orang lokal kemudian berdatangan untuk transaksi dagang, dan penduduk menamainya Gresik.

BPN usul pemantau Internasional awasi Pilpres 2019
3 Gunung Indonesia terbaik yang cocok untuk pendaki pemula
Kubu Jokowi klaim paling sedikit langgar aturan kampanye
Siapa pelanggar kampanye terbanyak? Ini kata Bawaslu
Bukan hanya barang, Cina juga bikin Kota Paris versi KW
3 bulan kampanye Pemilu, Bawaslu catat 192 ribu pelanggaran
\
Palestina jadi isu penting agenda diplomasi Parlemen
Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam
Tanggapi #Sandiwara Uno, PAN: TKN sebaiknya fokus pada kebijakan dan program
Fahri Hamzah setuju pembentukan Pansus KTP elektronik
PDI: BPN pindah ke Jateng justru membangunkan banteng tidur
Sandi dituding playing victim, BPN: Jangan langsung tuduh
Fitnah Jokowi PKI, BPN minta La Nyalla diproses polisi
Momen kampanye, pengamat ragu DPR segera revisi UU perkawinan
Fetching news ...